Sexta-feira, 06 de Dezembro de 2013

Funu Boaventura 1912

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Dom Boaventura adalah Raja Manufahi di Timor-Leste pada masa penjajahan Portugis. Tahun 1895 administrasi Timor-Leate berdiri sendiri setelah sebelumya dibawah makau. Dom Boaventura mulai memimpin pemberontakan melawan Portugis sejak 1900. Portugis yang mengerahkan tentara Afrika Portugis (sekarang Mozambik) baru berhasil menghentikan pemberontakan pada tahun 1912. 

Pedagang dan misionaris portugis tiba di Timor-Leste dengan kapal sekitar tahun 1500-an. Portugal memusatkan kontrolnya di bagian Timor-Timur pada 1800-an. Sejumlah pemberontakan muncul di Timor-Leste, Dom Boaventura Liurai Manufahi, memimpin gerakan terbesar dan terakhir adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Liurai Manufahi Dom Boaventura di tahun 1912. Dengan demikian Portugal menarik diri dari Timor-Leste ketika perang Dunia II meletus. Banyak masyarakat Timor-Leste yang tewas dalam pertempuran antara pasukan Jepang dan Australia. Australia memiliki konsulat di Dili hingga 1971. Timor-leste memiliki kebebasan yang sangat terbatas karena Portugal dipimpin oleh seorang diktator.

Sejarah masa pendudukan Portugal sekitar tahun 1859 Gubernur Castro menerapkan penanaman paksa untuk tanaman perdagangan baru ini, terutama kopi, tapi juga gandum dan spesies tanaman asing lainnya. Portugal tetap menjajah Timor-Leste secara tidak langsung yang membuat pemerintahan sulit diatur khususnya dengan adanya resistensi terhadap berbagai kebijakan ekonominya yang memaksa.

Gubernur Celestino da Silva melanjutkan sistem paksa ini pada dasawarsa 1890-an dan 1900-an, dengan ciri khusus yaitu pembanguan jalan. Resistensi para liurai (raja-raja setempat) muncul segera setelah pengangkatan seorang Gubenur di Lifau. Pemberlakuan upeti, yang disebut finta, sekitar tahun 1710, memicu pemberontakan dan kebencian yang terus berlanjut yang mempunyai andil dalam memaksa portugis untuk pindah ke Dili pada tahun 1769 portugal tidak mengalami perlawanan yang berarti sampai ketika Gubernur Castro mengunakan kekuatan militer untuk memaksakan penanaman kopi. Kebijakan yang tidak popular ini memicu pemberontakan pada tahun 1861 yang di ikuti serangkaian pemberontakan lokal yang dipimpin oleh para Liurai terhadap berbagai akses penjajahan.

Sebagai tanggapannya, pemerintahan Portugis memberlakukan kontrol langsung atas Timor-leste pada tahun 1895 ketika Gubernur Silva membentuk pemerintahan dan militer di seluruh Timor-leste, membagi wilayah tersebut mejadi sebelas distrik, termasuk daerah kantong Oecusse. Akibatnya, Portugal memisahkan Timor-leste dari Goa, menjadikannya sebuah distrik pemerintahan terpisah pada tahun 1896. Namun demikian pemberontakan terus berlanjut. Yang terakhir dan terbesar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Liurai Manufahi, Dom Boaventura yang memberontak melawan pajak kepala pada tahun 1908.

Resistensi Dom Boaventura ini berawal dari pemberontakan yang dipimpin oleh ayahnya; liurai Dom Duarte memimpin berbagai pemberontakan pada akhir abad ke-19 sampai Gubernur da Silva menyerang kerajaan Same pada tahun 1895 dan Dom Duarte dipaksa untuk menyerah pada tahun 1900. Setelah Gubernur da Silva mengganti finta dengan pajak kepala pada tahun 1908, Dom Boaventura, anak Dom Duarte, memberontak pada tahun 1911. Pihak portugis mengerahkan pasukan tentara liurai yang amat besar yang berjumlah 12.000, serta mendatangkan pasukan dari Mozambigue, dan dengan kejam menumpas pemberontakan ini pada tahun 1912. Aksi ini menciptakan suatu stabilitas, tetapi dengan harga kematian dan penderitaan yang amat besar.

Diperkirakan 25.000 orang meninggal dalam kampanye menumpas pemberontakan ini. Dom Boaventura ditangkap dan diasingkan ke Pulau Atauro dan meninggal disana. Setelah portugis memberikan kewenangan langsung pada desa (suco) sebagai pemerintahan local, dengan demikian memotong kewenangan liurai, mengurangi pengaruh mereka dan menetapkan kontrol Portugis yang lebih langsung terhadap semua daerah di pedalaman Timor Portugis.          

  1. B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang ada diatas maka penyusun dapat merumuskannya sebagai berikut?

  1. Bagaimana pemberontakan Dom Boaventura pada tahun 1912?
  2. C.    Tujuan Penulisan
    1. Guna untuk memenuhi syarat penilaian dalam mata kuliah.
    2. Memperluas wawasan mahasiswa/i dalam mempelajari masalah pemberontakan Dom Boaventura pada tahun 1911-1912.
    3. Dapat membantu mahasiswa/i untuk mengembangkan kemampuannya dalam proses belajar yang mandiri.
    4.  Untuk menjelaskan segala peristiwa yang terjadi di masa lampau dalam sejarah pemberontakan Dom Boaventura.
    5. D.    Manfaat Penulisan

Dalam setiap penulisan diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, juga tidak hanya menyun atau menulis, namun diharapkan mampu pula memberikan manfaat yang cukup mengembirakan dalam mempelajari bagaimana sejarah Pemberontakan yang terakhir dan terbesar oleh liurai Manufahe Dom Boaventura pada tahun 1912.

 

  1. E.     Sistematika Penulisan

Didalam sistematika penulisan proposal ini dibagi kedalam tiga (3) Bab, yang terdiri dari:

BAB I: Bab ini menguraikan tentang pendahuluan yang berisi: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan dan Sistematika Penulisan.

BAB II: Bagian ini menguraikan tentang tinjauan pustaka yang akan  menguraikan masalah-masalah yang diangkat guna mendapatkan solusi atau jalan keluar dengan acuan-acuan teori, konsep yang sesuai dengan judul atau pokok permasalahan  yang ada.

BAB III: Rancangan penelitian yang menguraikan tentang prosedur dan metode pendekatan, spesifikasi penelitian, teknik penentuan sampel, teknik pengumpulan data dan analisa data.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    Pemberontakan Liurai Dom Boaventura 1912

Portugal memusatkan kontrolnya di bagian Timor-leste pada 1800-an. Sejumlah pemberontakan muncul di Timor-leste. Dom Boaventura, Liurai Manufahi, memimpin gerakan terbesar dan yang terakhir pada 1912. Kemudian Portugal menarik diri dari Timor-leste ketika Perang Dunia II meletus. Banyak masyarakat Timor-leste tewas dalam pertempuran antara pasukan Jepang dan Australia. Australia memiliki konsulat di Dili hingga 1971. Timor-Leste memiliki kebebasan yang sangat terbatas karena Portugal dipimpin oleh seorang diktator.

  1. B.     Revolusi di Portugal dan Iklim Internasional

Pada 1960-an, gerakan kemerdekaan di Afrika memulai perjuangan bersenjata melawan diktator Portugis, Antonio Salazar. Penggantinya, Marcello Caetano, gagal mengakhiri konflik. Pada 25 April 1974, sebuah gerakan bersenjata melancarkan kudeta di Portugal–Revolusi Bunga.
Perubahan di Portugal yang mengarah ke dekolonisasi dan demokratisasi menguntungkan Timor Leste. Akan tetapi, pada waktu yang sama, paham komunisme menjalar ke Asia Tenggara. Masuknya komunisme membuat Indonesia dan Barat grogi dan merumitkan situasi di Timor-Leste.

Sementara fakta seputar pembangunan kota Dili di bulan Oktober 1769, 200 tahun setelah tindakan pelopor para padri Dominikan di zona Solor-Flores, dan 100 tahun setelah pembangunan benteng Lifau, tidak terdokumentasi dengan baik, kita mengetahui bahwa begitu mengokohkan diri di praça atau ibukota baru Dili, Portugis berusaha memperkuat pertahanannya, tidak hanya terhadap musuh dari luar, tetapi juga terhadap rakyat Timor-leste. Seperti yang didokumentasikan dalam bab ini, pertahanan akan menjadi ganjalan kecil apabila tidak disertai dengan keberhasilan diplomasi Portugis dalam memperoleh sekutu dari kalangan liurai yang strategis.

Akan tetapi kecuali kemunduran di Lifau dan usaha-usaha yang lebih awal di Dili dan Manatuto, dari semua bukti ternyata Dili di masa pembangunannya meraih keberhasilan yang lebih banyak dalam merangkul sekutu dari kalangan régulo daripada yang dilakukan di pertengahan abad ketika pemberontakan lagi-lagi menjadi mewabah. Persoalan kesetiaan, bersama dengan fakta dasar yang melingkupi pembentukan koloni, juga dibahas dalam sebuah laporan panjang tentang Timor yang ditulis oleh Bernardo José Maria de Lorena, yang berkedudukan Pangeran Sarzedas, dan Gubernur Goa (1807-1816). Laporan ini ditulis untuk Gubernur mendatang Vitorino Freire da Cunha Gusmão (1812-1815) dalam sebuah usaha untuk menyiapkan rekaman yang benar tentang apa, yang dipelajarinya dari arsip-arsip Goa, keadaan yang tidak dapat diterima di koloni tengah lautan itu. Khususnya karena hilangnya arsip Dili pada 1799, dokumen Sarzedas, yang akan kita jadikan rujukan dalam bab ini, merupakan penjelasan yang paling lengkap dari periode ini. Dokumen ini juga dikutip oleh Gubernur de Castro dalam karyanya.

Seperti yang sudah terlihat, Portugis begitu sulit mempertahankan sekutu dari kalangan masyarakat Timor, lebih-lebih dari kalangan topasse, mereka berhasil mengkooptasi kader tentara bayaran yang (sebagian besar) setia. Semenjak pendirian Lifau, kekuatan ini terdiri dari tiga unsur, yaitu moradores atau pasukan militer sipil, golongan Bidau, dan Sica.

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1.Metode Penelitian

Metode penelitian adalah merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dikatakan cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu Rasional, Empiris dan Sistematik. Dalam penelitian ini, peneliti mengunakan metode kualitatif deskriptif dalam hubungannya dengan gejala yang diteliti sebagai suatu rangkaian asumsi, konsep yang kualitatif untuk menerangkan secara sistematis dengan cara merumuskan konsep sebagai jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.

 

3.3.Instrument Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, instrument penelitian merupakan peneliti sendiri (Human instrument), berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informen sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Dengan demikian peneliti akan mempersiapkan berbagai materi sebelum memasuki lapangan, alasannya karena segala sesuatu belum mempunyai bentuk yang pasti dan akan perlu dikembangkan sepanjang penelitian, (Nasution, 1988).

 

 

3.4.Teknik Penentuan Sampel

Dalam penelitian ini, peniliti mengunakan teknik Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, dimana peneliti akan mengindetifikasi informen atau narasumber yang merupakan bagian dari obyek atau situasi sosial yang akan diteliti.

3.5.Teknik Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data yang akurat. Dalam penelitan ini, peneliti mengunakan teknik Wawancara langsung (Kuesioner terbuka bagi informen), riset buku dan dokumentasi yang berhubungan dengan ruang lingkup kasus ini.

3.6.Jenis Data

Dalam penelitian ini, data-data yang dibutuhkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang belum disediakan oleh obyek penelitian dan diperoleh melalui hasil wawancara langsung. Data sekunder adalah data-data yang telah tersedia dilokasi penelitian yang berupa sumber-sumber referensi bagi peneiliti.

 

 

3.7.Teknik Analisis Data

Miles dan Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti menggunkan beberapa tahap analisis data yang akan dikumpulkan dari obyek penelitian, antara lain:

  1. Data Collection

Data Koleksi adalah data-data yang diperoleh dari lapangan dan dikumpulkan untuk dianalisis. Data ini berupa hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.

  1. Reduksi Data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, menfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari polanya. Dengan demikian data yang direduksi akan memberi gambaran yang lebih jelas.

  1. Disiplay atau Penyajian Data (Data Display)

Setelah mereduksi data yang telah dikoleksi, maka langkah selanjutnya mendisplay atau menyajikan data. Data yang disajikan akan diolah dalam bentuk uraian singkat, bagan atau hubungan antara kategori. Namun, Miles dan Huberman, selanjutnya disarankan bahwa melakukan disiplay data selain dengan teks naratif, juga dapat berupa grafik, matrik.

  1. Kesimpulan atau verifikasi (Conclusion/Verification)

Setelah data dikumpulkan, direduksi, disajikan, maka langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Data-data yang dimbil dilapangan khususnya departemen yang bersangkutan, akan diolah melalui tahap analisis dan akan menjawab beberapa masalah yang telah dirumuskan.

3.8.Uji Keabsahan

Setelah peneliti melakukan teknik analisis data maka langkah selanjutnya adalah bagaimana menguji tingkat keabsahan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti. Dalam pengujian keabsahan ini, peneliti menggunakan metode pengujian kredibilitas, dimana uji kredibilitas dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, mengecek dan analisis kasus negatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

publicado por mdi às 17:04

STAFF MDI LAKON

Iha loron 27 outubru staff MDI ida lakon iha Indonezia tamba aviaun soe hela nia iha aeroportu. tuir fontes konfirmasaun ne'ebe la hateten sai nia naran dehan wain hra aviaun ne'e semo Sr. Andre ne'e telefone tuir ba pilot aviaun atu para lai ituan iha kalon para nia (ANDRE atu sae maibe la konsege.

publicado por mdi às 15:28

mais sobre mim

Dezembro 2013

Dom
Seg
Ter
Qua
Qui
Sex
Sab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

pesquisar

 

arquivos

2013

blogs SAPO


Universidade de Aveiro

subscrever feeds